perjalanan si nday
leaving some traces behind... my thoughts, my experiences, my reflections... on learning and education, environment, culture and spirituality, among other things...
Friday, December 14, 2012
menjadi individu...
Dalam prosesnya menjadi dewasa, anak-anak ibarat sedang menyusun sebuah puzzle besar yang tidak kita ketahui apa gambarnya dan seberapa besar ukurannya. Dalam setiap pengalaman kehidupannya (di sekolah, di rumah, di manapun) ia menemukan keping demi keping pengetahuan, kesadaran, penghayatan dan menyusunnya menjadi bagian dirinya. Saat pengalamannya lengkap, utuh dan seimbang, menggambarkan diri dan kehidupannya, ia akan menjadi individu yang utuh, dewasa, lengkap. Ia akan menjadi individu yang mengenal segala keunikan dirinya di tengah sesama, alam lingkungan, di hadapan Penciptanya.
Sunday, November 18, 2012
Don't Hate what You Don't Understand
![]() | ||
| from The Lessons of Life by Louise Smith |
Membenci apa yang tidak kita pahami... Jangan-jangan ini adalah sesuatu yang sering kita lakukan - sadar ataupun tidak. Pemikiran tadi muncul saat suatu waktu gambar di atas ini saya lihat di salah satu posting status facebook dari The Lessons of Life. (Salah satu laman facebook yang kerap saya kunjungi secara khusus karena isinya selalu inspiratif.). Mungkin istilah lainnya menghakimi, atau men-judge - memberikan penilaian atau menarik kesimpulan terhadap sesuatu yang sebetulnya tidak kita pahami.
Pengalaman saya di Semi Palar begini, ceritanya berkisar di seputar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Sejak awal saya mendengar soal KKM sebagai acuan ketuntasan bagi salah satu sasaran pembelajaran murid di kelas, saya spontan menilai KKM itu ga bener. Ga masuk akal. Dan memang penilaian saya itu menjadi penghalang besar bagi saya untuk mencoba memahami apa sebetulnya yang disebut KKM itu. Dengan ke'sok-tauan' saya, saya menyimpulkan KKM ini ciptaan baru Diknas yang 'mengada-ada'. Hal ini, tanpa disadari berlangsung cukup lama.
Sampai beberapa waktu lalu sekolah kami Semi Palar berhadapan dengan akreditasi. Salah satu di antara banyak persiapannya adalah bagaimana kami harus menyiapkan berbagai dokumen untuk keperluan akreditasi tersebut. Dalam prosesnya, saya ternyata dipaksa untuk memahami apa itu namanya KKM dengan segala seluk beluknya. Walaupun semakin paham, bagi saya KKM itu tetap ga nyambung... Waktu berjalan dan di suatu kesempatan saya sempat melontarkan pertanyaan saya tentang KKM ini kepada rekan-rekan di grup FB Bale Edukasi, tempat berdiskusinya rekan-rekan pemerhati dan praktisi pendidikan. Salah satu yang merespon tentang KKM ini ternyata Prof Iwan Pranoto. Beliau menjelaskan dengan singkat dan gamblang bagaimana pendekatan Competence Based Curicullum yang sebenarnya. Dan dari situ sayapun semakin paham apa dan bagaimana KKM ini.
Akreditasi kemudian dilewati, lengkap dengan pengarahan sore hari dari pak Mamad (asesor 1) secara khusus mengenai KKM kepada tim Semi Palar. Apakah nyambung? ternyata ya tidak juga, tapi saya bisa secara gamblang menjelaskannya kenapa. Apa bedanya dengan dulu, dulu saya sekedar tidak suka. Rasa tidak suka itu ternyata menghalangi saya untuk belajar dan memahami lebih lanjut. Lalu apa manfaatnya? Bagi saya proses memahami KKM ini justru mendorong saya untuk menggali lebih dalam mengenai Pembelajaran Holistik, yang selama ini saya dan tim di Smipa terus coba terapkan di Rumah Belajar Semi Palar. Di titik ini, kalau saya ditanya, saya dapat menjelaskan dengan lebih baik kenapa KKM itu tidak relevan dengan pembelajaran holistik di Semi Palar.
Mundur cukup jauh, saya juga punya pengalaman menarik dari sebuah forum di Rumah Nusantara, mungkin sekitar tahun 2004-an. Waktu itu rekan-rekan komunitas Rumah Nusantara mengundang pembicara-pembicara yang memang tidak biasa. Hadir di sore itu, Ilham Aidit dan Sarjono Kartosuwiryo. Dari nama-namanya, kita tahu mereka putra-putra dari orang-orang yang dikenal berseberangan dengan Republik pada jamannya dulu. Hadir pula waktu itu Arswendo Atmowiloto dan beberapa pembicara lain. Nama-nama mereka, Aidit dan Kartosuwiryo, tentunya dengan segera membangunkan persepsi tertentu pada benak kita - sebagaimana pada saat kita bersekolah pengetahuan-pengetahuan tentang mereka ditanamkan. Saya masih ingat betul bagaimana persepsi saya berubah seketika mendengar paparan rekan-rekan ini di forum tersebut. Terlebih pada saat Sarjono menekankan bahwa hari ini, tidak ada alasan apapun untuk mendirikan negara Islam - karena negara Indonesia sudah berdiri berlandaskan Pancasila dengan segala prinsipnya. Berbeda situasinya saat peristiwa sejarah gerakan DI/TII berhadapan dengan militer Indonesia. Menurut pemaparan Sarjono, ada hukum Islam yang menegaskan bahwa kalau ada sejumlah tertentu umat Islam yang berkumpul tanpa kepimpinan yang jelas - karena situasi kepemimpinan Indonesia saat itu memang sedang tidak jelas - maka harus didirikanlah sebuah Negara Islam. Hal ini ditujukan untuk melindungi rakyat dan menghindari terjadinya kekacauan. Begitu pemahaman yang saya tangkap dari pembicaraan di forum tersebut. Memang begitu mudah kita mengambil kesimpulan dari hal-hal yang ternyata tidak betul-betul kita pahami.
You might also like:
Thursday, November 15, 2012
narasi hidup
Setiap peristiwa yang kita alami adalah narasi hidup kita. Kalau kita gagal membacanya dengan cermat, memaknainya dengan tepat, entah karena terburu-buru ataupun tergesa menyimpulkan sesuatu, kita akan gagal memahami kisah hidup kita dan menjalankan apa yang seharusnya kita perankan.
Seperti didalam teks, tanda baca dan notasi, walaupun kecil mereka berperan besar menentukan makna sebuah kalimat.
Hidup mengajak kita untuk peka dan menyadari setiap hal kecil yang membingkai makna setiap peristiwa.
You might also like:
Saturday, November 3, 2012
[Book Review] You are Not a Gadget
My rating: 4 of 5 stars
Jaron Lanier (the writer) is someone who really understands the digital world. He is one of those who designs the digital world that we live in today. Yet he is one of the few (I presume) who really understand the significance and ramifications of those small things that were put in the design of the digital world. Especially in relation to us as human being. I read another book (quite a long time ago) titled The Skin of Culture. It was written by Derrick de Kerckhove. In my understanding Derrick simply stated that Design is the very skin of Culture. The design of things defines our culture, how we think, how we act, how we do things, how we interact. This statement, I believe defines the significance of things we design on our culture. We have to really understand how technology works as it may well defined who we are. I have not finished the book, but this is for me an important book.
View all my reviews
Friday, October 5, 2012
What is Progress? (refleksi pendek mengenai kemajuan)
Coba amati rangkaian gambar di bawah ini, bingkai gambar demi bingkai gambar. Amati, bukan sekedar melihat sekilas.
![]() |
| klik untuk gambar lebih besar |
Lalu bagaimanakah kita mendefinisikan perubahan di dalam rangkaian gambar yang ada di atas tadi. Inikah kemajuan? Is it progress? Kemajuan bagi siapa? Apakah yang kita sebut sebagai kemajuan senantiasa membawa kebaikan? Apa yang paling mudah menjadi korban? Dari gambar di atas, alam-lah yang selalu jadi korban. Dari gambar pertama di mana segala sesuatu masih serba hijau, pepohonan, rerumputan, burung berterbangan. Di gambar terakhir, semua hilang - tergantikan dengan segala sesuatu yang serba sintetis - serba buatan. Segala yang serba hidup - ciptaan Tuhan, kita gantikan dengan benda-benda tak bernyawa ciptaan manusia.
Pertanyaannya, bagaimana manusia bisa merasa berhak menghilangkan semua itu? Siapakah yang memberi ijin? Belum lama ini, saya menjumpai sebuah teks pendek yang berbunyi...
~ remember, nature never give ownership to humans ~
Jadi siapa yang memberi ijin? Segala sesuatu yang selama ini manusia lakukan dan tidak hentinya kita lakukan ternyata sangat justru bertentangan dengan teks di atas tadi. Manusia seakan merasa memiliki alam, memiliki hak untuk tidak henti-hentinya mengeksploitasi alam. Manusia mengolahnya menjadi barang-barang konsumtif dan mengkonversinya jadi uang. Tanpa henti. Masalah timbul karena manusia sepertinya tidak pernah puas dan tidak tahu batas. Inilah sebabnya planet bumi ini mulai rusak, menjadi sakit. Dulu kalau kita ingat, masyarakat tradisi (yang kita sebut belum maju) selalu minta ijin kepada Sang Kuasa, saat akan melakukan sesuatu di dalam setiap kehidupannya. Mau menebang pohon, mereka berdoa dulu; mau gali sumur, mereka upacara dulu; mau bertanam, mereka minta ijin dulu; setelah panen, mereka sukuran dulu... Masyarakat tradisional sadar betul tempat dan posisi mereka di tengah alam semesta...
Mungkin semua tahu, kata-kata luar biasa dari Gandhi :
~ The Earth provides enough to satisfy every man's need,
but not every man's greed ~
Di sinilah letak masalahnya. Manusia modern (yang katanya sudah maju ini) tampaknya tidak tahu kapan harus berhenti. Semakin canggih teknologi dan maju kehidupannya, semakin manusia tidak pernah berpikir dan merenung. Alam yang dititipkan Tuhan kepada kita dianggap sebagai pemberian. Demikian besar ego manusia, ia merasa ada di puncak segalanya. Manusia lupa bahwa ia adalah bagian, adalah komponen yang sama dari dunia yang ditinggalinya. Bahwa saat seorang manusia merusak sebagian kecil dari alam, ia juga merusak bagian kecil kehidupannya sendiri.
but not every man's greed ~
Di sinilah letak masalahnya. Manusia modern (yang katanya sudah maju ini) tampaknya tidak tahu kapan harus berhenti. Semakin canggih teknologi dan maju kehidupannya, semakin manusia tidak pernah berpikir dan merenung. Alam yang dititipkan Tuhan kepada kita dianggap sebagai pemberian. Demikian besar ego manusia, ia merasa ada di puncak segalanya. Manusia lupa bahwa ia adalah bagian, adalah komponen yang sama dari dunia yang ditinggalinya. Bahwa saat seorang manusia merusak sebagian kecil dari alam, ia juga merusak bagian kecil kehidupannya sendiri.
Saya jadi ingat sewaktu berjumpa dengan Butet Manurung yang mendirikan Sokola Rimba bagi anak-anak di pedalaman berbagai daerah di Indonesia. Butet bercerita bagaimana anak-anak Rimba itu bingung karena melihat Butet memiliki begitu banyak pakaian. Mereka bertanya "Ibu, kenapa ibu punya baju banyak sekali? Kita kan hanya perlu dua. Satu kita pakai, satu lagi kita cuci..."
Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi dengan teman-teman dari kelompok Ulin - kelas 7 Semi Palar. Diskusi tentang sampah akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa manusia jaman dulu (yang disebut primitif) jauh lebih canggih dari kita karena tidak pernah membuang sampah. Berbeda dengan kita sekarang ini di mana hampir setiap tindakan kita (yang katanya modern) ini selalu menghasilkan sampah.
Sekarang manusia seakan tidak lagi berpikir. Perubahan peradaban manusia menggiring manusia ke titik di mana selama ada uang, walaupun kita tidak perlu kita akan beli. Setiap bulan beli baju... HP tidak cukup satu, kita beli dua, bahkan tiga. Mobil tidak cukup satu, kita beli lagi. Rumah tidak cukup satu, kalau perlu kita beli dua atau tiga... Untuk apa, mungkin untuk cari uang, untuk investasi katanya, untuk kemajuan kehidupan kita. Kita kerja semakin keras untuk kemajuan ekonomi - supaya punya uang. Buat apa uang, supaya kita bisa beli lagi dan beli lagi dan beli lagi... Berbeda ya dengan anak-anak Rimba Bukit Dua Belas tadi, mereka berpikir... buat apa ya punya banyak-banyak baju...
Kita lupa, semakin kita beli, beli dan beli, semakin hancurlah alam kita, karena segala sesuatu kita pasti ambil dari alam, dan segala sesuatu yang sudah tidak kita pakai kita buang lagi ke alam, menjadi sampah. Semua ini kita bungkus dengan satu kata : kemajuan. Progress.
Lalu kembali ke pertanyaan di atas tadi? Apakah itu kemajuan? What is progress? Tidakkah manusia lupa belajar satu hal penting: kapankah kita perlu berhenti. Kapan kita bisa mengatakan ini sudah cukup untuk kita. Supaya setiap manusia hidup dalam porsi yang secukupnya untuk kehidupannya. Tidak berlebihan. Rasanya dengan demikian apa yang diungkapkan Gandhi bisa menjadi masuk akal karena planet ini tidak akan bisa mencukupi kerakusan kita...
:: gambar diambil dari grup facebook : GASAN (Give a Shit about Nature) dan Earth We Are One
Saturday, September 22, 2012
Bagaimana (semestinya) Kita Memandang Pengetahuan
Bicara pendidikan, hampir pasti kita bicara pengetahuan. Walaupun pendidikan (semestinya) tidak berhenti pada pengetahuan belaka. Pengetahuan, apabila ditilik secara holistik, akan menjadi sangat kompleks, luas dan dinamis. Keluasan dan kompleksitas yang melingkupi butir-butir pengetahuan tersebut, sebetulnya adalah bagian tak terpisahkan dari pengetahuan itu sendiri.
Mengumpulkan pengetahuan adalah salah satu titik awal proses belajar manusia yang serba kompleks dan multidimensional. Setelah sekian lama sekolah-sekolah melalui para guru berupaya mengajari siswanya berbagai pengetahuan yang (menurut kita para pendidik) dibutuhkan oleh para siswa bagi kehidupannya sewaktu dewasa, ada baiknya kita berhenti dan melihat kembali apa dan bagaimana sebetulnya butiran-butiran pengetahuan yang kita jadikan bahan belajar (materi) untuk anak-anak kita. Apakah yang sesungguhnya telah kita lakukan dalam memandang dan menggambarkan pengetahuan dalam proses pembelajaran anak-anak kita di sekolah? Apakah cara kita menyajikan pengetahuan memang membantu mereka dalam proses belajar, selain untuk mengetahui, juga memahami dan menghayatinya.
Linear Thinking
Dalam ranah proses kognitif, ilustrasi di sebelah kiri menggambarkan apa yang disebut sebagai Linear Thinking. Ini adalah bagaimana konstelasi pengetahuan yang serba kompleks, penuh dinamika dan saling terkait diterjemahkan ke dalam satu rangkaian proses yang linier, satu arah, satu jalur, dari satu hal ke hal lain, dari satu bab menuju bab berikutnya. Singkatnya begitu banyak hal-hal yang dihilangkan dari kompleksitas dan dinamika situasi yang sesungguhnya. Disederhanakan, dihilangkan kerenikannya. Membuatnya lebih parah adalah bagaimana pengetahuan ini kemudian disampaikan di sekolah. Sekolah (saat ini) melalui guru-gurunya menyuguhkan rangkaian pengetahuan yang linier - satu dimensional - dilakukan dalam jam pelajaran dan bidang studi yang terpisah-pisah oleh guru mata pelajaran yang berbeda pula.
Dua atau Tiga dimensional?
Lalu bagaimana cara yang tepat mengajak anak dan memandang pengetahuan? Apakah pengetahuan lebih tepat dipetakan secara dua dimensional - seperti peta pikiran (mind-map) di sebelah kiri ini? Pengetahuan digambarkan sebagai sebuah jaringan (web) dan kita bisa melihat bagaimana satu hal dapat dijabarkan lebih jauh ke cabang-cabang yang lebih kecil. Sebaliknya, hal yang menjadi pusat mind-map sebenarnya adalah bagian dari jaringan yang lebih besar lagi. Jadi, apakah pemetaan dua dimensional ini memadai, jangan-jangan juga tidak, karena kompleksitas realita adalah luar biasa - mungkin tak terbatas - dan sangat multi dimensional.
Kita coba bergerak lagi. Bagaimana kalau kita bayangkan lembaran mind-map tadi kita jadikan pembungkus sebuah bola, saya kira itu penggambaran pengetahuan yang lebih mendekati. Peta pengetahuan tidak lagi dua dimensional tapi menjadi tiga dimensional. Lebih lanjut, bola pengetahuan tersebut kita imajinasikan sebagai sebuah gelembung sabun (transparan / bening) dengan butiran pengetahuan yang saling berkaitan tergambarkan di atasnya, kita bisa melihat bahwa setiap butiran pengetahuan tidak pernah berdiri sendiri, selalu ada hal lain yang terkait (koneksi) dan melingkupi / melatar-belakanginya (konteks) - dan selalu bergerak. Melalui analogi ini, kita seharusnya bisa memahami bagaimana kita tidak pernah bisa (boleh) mengisolasi materi pembelajaran apapun dari koneksi atau konteksnya. Kalau hal tersebut kita lakukan, butir pengetahuan tersebut akan kehilangan maknanya. Selanjutnya pada saat makna pengetahuan tersebut hilang, sang pembelajarpun akan menjadi sulit memahaminya.
Dimensi ke Empat dalam Analogi Gelembung Sabun.
Dalam upaya menyelami kompleksitas konstelasi pengetahuan, kita mungkin bisa juga menyadari bahwa ada satu dimensi lain yang kerap terabaikan (atau jangan-jangan sengaja diabaikan) saat kita menyajikan berbagai butiran pengetahuan ke alam pembelajaran anak-anak di sekolah. Dimensi ke empat - dimensi waktu. Dimensi waktu adalah salah satu dimensi terpenting yang sering dihilangkan. Inilah yang menjadikan bahan pelajaran seakan-akan bisa 'dibekukan'. Padahal dimensi waktu adalah satu hal yang senantiasa mengubah segala sesuatu di alam semesta ini. Tidak ada sesuatupun yang tidak berubah. Sebongkah batu di sudut suatu taman yang tidak pernah tersentuhpun tidak pernah sama kondisinya, detik ini dari detik yang lalu."Nothing stays the same"; segala sesuatu selalu berubah dan dengan demikian pengetahuan-pun senantiasa berubah.
Dalam ranah pendidikan, kepingan pengetahuan atau keterampilan yang dibutuhkan di satu waktu bisa jadi sangat tidak dibutuhkan oleh peserta didik di dalam konteks waktu (atau situasi) yang berbeda. Sebagai contoh, satu pesies yang di tahun lalu kita sebut sebagai binatang langka, jangan-jangan di hari ini spesies tersebut sudah punah. Inilah sebabnya kita tidak bisa lagi sekedar bersandar pada buku-buku paket untuk panduan pembelajaran anak-anak di kelas. Saat ini perubahan terjadi begitu cepat. Materi pembelajaran di sekolah seharusnya dipandang sangat dinamis sifatnya, tidak mungkin distandarisasikan dan serba di sama ratakan. Lebih jauh lagi, yang semestinya dibangun pada anak-anak adalah kemampuan mereka untuk menggali dan mengolah pengetahuan sesuai kebutuhan kehidupannya - sekarang maupun kelak. Yang menjadi penting adalah bukan butir pengetahuannya semata - yang kita tahu pasti akan berubah dan hampir pasti tidak lagi relevan pada saat anak kita dewasa. Dari sudut pandang ini, kita bisa memahami kenapa pertanyaan-pertanyaan tertutup, pilihan ganda yang mengandalkan hafalan belaka hampir tidak ada manfaatnya bagi proses berpikir dan belajar anak-anak kita.
Kembali ke analogi gelembung sabun, saat melayang di udara, gelembung sabun senantiasa bergerak, ada yang saling menempel, berputar, ada yang kemudian pecah dan lain sebagainya. Seperti itulah kompleksitas dan dinamika pengetahuan yang terserak di semesta ini. Sementara semesta tidak berhenti menghembuskan gelembung-gelembung pengetahuan yang baru. Kita harus mampu mengajak anak-anak belajar memahami pengetahuan di dalam kompleksitas dan dinamikanya sekaligus agar mereka mampu menempatkan diri dan mengolah butiran pengetahuan tersebut menjadi bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.
Koherensi Proses Pembelajaran dan Pemetaan Pengetahuan
Apa yang saya coba uraikan di sini adalah pentingnya kita memahami karakteristik pengetahuan itu sendiri, sebelum kita mulai mengolah dan menyajikannya kepada para murid. Hal ini adalah salah satu penentu keberhasilan proses pembelajaran. Metode, pola atau pendekatan yang diambil sangat bergantung pada bagaimana kita memandang pengetahuan.
Kata kuncinya adalah KOHERENSI - yang mungkin dapat diterjemahkan sederhana sebagai kesejajaran. Apakah pengetahuan yang disusun dan disajikan di ke dalam ruang belajar anak-anak kita - di kelas - mampu merepresentasikan situasi nyata dari mana pengetahuan tersebut bersumber. Semakin kecil tingkat koherensinya, kita harus berani berpikir bahwa akan tingkat keberhasilan pembelajaran akan semakin sulit dicapai karena pengetahuan yang kita sajikan begitu berjarak terhadap apa yang sesungguhnya ada / terjadi. "Gak nyambung", begitu kira-kira. Pada saat pengetahuan gak nyambung di dalam ruang pemikiran anak-anak, tentunya pengetahuan betapapun pentingnya, menjadi tidak bermakna. Dalam bahasa gaul anak-anak kita sekarang istilahnya "GJ" (Gak Jelas) dan ujung-ujungnya pun mereka akan berujar: "EGP" (Emang Gua Pikirin?).
Kesimpulannya? Untuk menemukan maknanya di dalam pembelajaran, komponen pengetahuan tidak boleh dilepaskan dari kompleksitasnya. Dalam pandangan pendidikan holistik, koneksi dan konteks-lah yang justru menjadi penting untuk membangun makna bagi setiap butiran pengetahuan yang ingin kita sajikan kepada anak-anak kita.
Mengumpulkan pengetahuan adalah salah satu titik awal proses belajar manusia yang serba kompleks dan multidimensional. Setelah sekian lama sekolah-sekolah melalui para guru berupaya mengajari siswanya berbagai pengetahuan yang (menurut kita para pendidik) dibutuhkan oleh para siswa bagi kehidupannya sewaktu dewasa, ada baiknya kita berhenti dan melihat kembali apa dan bagaimana sebetulnya butiran-butiran pengetahuan yang kita jadikan bahan belajar (materi) untuk anak-anak kita. Apakah yang sesungguhnya telah kita lakukan dalam memandang dan menggambarkan pengetahuan dalam proses pembelajaran anak-anak kita di sekolah? Apakah cara kita menyajikan pengetahuan memang membantu mereka dalam proses belajar, selain untuk mengetahui, juga memahami dan menghayatinya.
Linear Thinking
![]() |
| dari A ke B ke C... |
Dua atau Tiga dimensional?
![]() |
| mind-map (peta pikiran) |
Kita coba bergerak lagi. Bagaimana kalau kita bayangkan lembaran mind-map tadi kita jadikan pembungkus sebuah bola, saya kira itu penggambaran pengetahuan yang lebih mendekati. Peta pengetahuan tidak lagi dua dimensional tapi menjadi tiga dimensional. Lebih lanjut, bola pengetahuan tersebut kita imajinasikan sebagai sebuah gelembung sabun (transparan / bening) dengan butiran pengetahuan yang saling berkaitan tergambarkan di atasnya, kita bisa melihat bahwa setiap butiran pengetahuan tidak pernah berdiri sendiri, selalu ada hal lain yang terkait (koneksi) dan melingkupi / melatar-belakanginya (konteks) - dan selalu bergerak. Melalui analogi ini, kita seharusnya bisa memahami bagaimana kita tidak pernah bisa (boleh) mengisolasi materi pembelajaran apapun dari koneksi atau konteksnya. Kalau hal tersebut kita lakukan, butir pengetahuan tersebut akan kehilangan maknanya. Selanjutnya pada saat makna pengetahuan tersebut hilang, sang pembelajarpun akan menjadi sulit memahaminya.
Dimensi ke Empat dalam Analogi Gelembung Sabun.
Dalam upaya menyelami kompleksitas konstelasi pengetahuan, kita mungkin bisa juga menyadari bahwa ada satu dimensi lain yang kerap terabaikan (atau jangan-jangan sengaja diabaikan) saat kita menyajikan berbagai butiran pengetahuan ke alam pembelajaran anak-anak di sekolah. Dimensi ke empat - dimensi waktu. Dimensi waktu adalah salah satu dimensi terpenting yang sering dihilangkan. Inilah yang menjadikan bahan pelajaran seakan-akan bisa 'dibekukan'. Padahal dimensi waktu adalah satu hal yang senantiasa mengubah segala sesuatu di alam semesta ini. Tidak ada sesuatupun yang tidak berubah. Sebongkah batu di sudut suatu taman yang tidak pernah tersentuhpun tidak pernah sama kondisinya, detik ini dari detik yang lalu."Nothing stays the same"; segala sesuatu selalu berubah dan dengan demikian pengetahuan-pun senantiasa berubah.
Dalam ranah pendidikan, kepingan pengetahuan atau keterampilan yang dibutuhkan di satu waktu bisa jadi sangat tidak dibutuhkan oleh peserta didik di dalam konteks waktu (atau situasi) yang berbeda. Sebagai contoh, satu pesies yang di tahun lalu kita sebut sebagai binatang langka, jangan-jangan di hari ini spesies tersebut sudah punah. Inilah sebabnya kita tidak bisa lagi sekedar bersandar pada buku-buku paket untuk panduan pembelajaran anak-anak di kelas. Saat ini perubahan terjadi begitu cepat. Materi pembelajaran di sekolah seharusnya dipandang sangat dinamis sifatnya, tidak mungkin distandarisasikan dan serba di sama ratakan. Lebih jauh lagi, yang semestinya dibangun pada anak-anak adalah kemampuan mereka untuk menggali dan mengolah pengetahuan sesuai kebutuhan kehidupannya - sekarang maupun kelak. Yang menjadi penting adalah bukan butir pengetahuannya semata - yang kita tahu pasti akan berubah dan hampir pasti tidak lagi relevan pada saat anak kita dewasa. Dari sudut pandang ini, kita bisa memahami kenapa pertanyaan-pertanyaan tertutup, pilihan ganda yang mengandalkan hafalan belaka hampir tidak ada manfaatnya bagi proses berpikir dan belajar anak-anak kita.
Kembali ke analogi gelembung sabun, saat melayang di udara, gelembung sabun senantiasa bergerak, ada yang saling menempel, berputar, ada yang kemudian pecah dan lain sebagainya. Seperti itulah kompleksitas dan dinamika pengetahuan yang terserak di semesta ini. Sementara semesta tidak berhenti menghembuskan gelembung-gelembung pengetahuan yang baru. Kita harus mampu mengajak anak-anak belajar memahami pengetahuan di dalam kompleksitas dan dinamikanya sekaligus agar mereka mampu menempatkan diri dan mengolah butiran pengetahuan tersebut menjadi bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.
Koherensi Proses Pembelajaran dan Pemetaan Pengetahuan
Apa yang saya coba uraikan di sini adalah pentingnya kita memahami karakteristik pengetahuan itu sendiri, sebelum kita mulai mengolah dan menyajikannya kepada para murid. Hal ini adalah salah satu penentu keberhasilan proses pembelajaran. Metode, pola atau pendekatan yang diambil sangat bergantung pada bagaimana kita memandang pengetahuan.
Kata kuncinya adalah KOHERENSI - yang mungkin dapat diterjemahkan sederhana sebagai kesejajaran. Apakah pengetahuan yang disusun dan disajikan di ke dalam ruang belajar anak-anak kita - di kelas - mampu merepresentasikan situasi nyata dari mana pengetahuan tersebut bersumber. Semakin kecil tingkat koherensinya, kita harus berani berpikir bahwa akan tingkat keberhasilan pembelajaran akan semakin sulit dicapai karena pengetahuan yang kita sajikan begitu berjarak terhadap apa yang sesungguhnya ada / terjadi. "Gak nyambung", begitu kira-kira. Pada saat pengetahuan gak nyambung di dalam ruang pemikiran anak-anak, tentunya pengetahuan betapapun pentingnya, menjadi tidak bermakna. Dalam bahasa gaul anak-anak kita sekarang istilahnya "GJ" (Gak Jelas) dan ujung-ujungnya pun mereka akan berujar: "EGP" (Emang Gua Pikirin?).
Kesimpulannya? Untuk menemukan maknanya di dalam pembelajaran, komponen pengetahuan tidak boleh dilepaskan dari kompleksitasnya. Dalam pandangan pendidikan holistik, koneksi dan konteks-lah yang justru menjadi penting untuk membangun makna bagi setiap butiran pengetahuan yang ingin kita sajikan kepada anak-anak kita.
Saturday, August 25, 2012
Living Manifesto from Holstee
for those who love life, for those who love cycling, then this video from Holstee is a must see!
You might also like:
Friday, August 24, 2012
Sunday, August 12, 2012
[trash] collectivism
TC, wah benda apa itu? Hmm, Trash Collectivism hanya istilah rekaan saya belaka. Supaya keren, begitu... supaya 'catchy' dan mudah diingat orang. Lalu apa sebenarnya TC itu? Terjemahan bebasnya adalah mengumpulkan sampah. 'TC' adalah salah satu hal sederhana yang bisa kita lakukan di rumah kita masing-masing untuk mulai mengolah sampah. Pertanyaan berikutnya yang mungkin muncul adalah "Untuk apa sampah kita olah? Namanya saja sampah?"
Secara sederhana, tujuan mengolah sampah adalah agar sampah itu punya nilai tambah. Selama ini di dalam benak kita, sampah adalah benda-benda yang tidak lagi ada gunanya. Pola pikir ini harus kita ubah. Sampah harus tidak lagi kita pandang sebagai sekedar sesuatu yang kita buang karena sudah tidak ada nilainya. Benda apapun yang sudah habis nilai fungsinya bagi kita perlu kita lihat dan temukan nilai lainnya - paling tidak nilai materialnya. Kenapa? Karena benda apapun yang kita gunakan, sumber / bahan bakunya pasti berasal dari alam. Segala sesuatu yang dimiliki dan tersedia di alam kita adalah terbatas (finite), bahkan sangat terbatas untuk mencukupi kebutuhan umat manusia yang sudah sekian miliar orang jumlahnya - dan masih terus bertambah.
Sebuah ilustrasi sederhana: plastik - termasuk juga kantong kresek atau plastik kemasan yang kita gunakan sehari-hari diolah dari bahan dasar minyak bumi. Salah satu turunan olahan minyak bumi (kalau tidak salah diistilahkan polimer) kita gunakan sebagai kemasan produk atau kantong pembawa barang-barang belanjaan kita sehari-hari. Sudah tidak banyak kita sadari lagi bahwa ketersediaan minyak bumi adalah sangat terbatas. Atau, kita sadar tapi tidak terlalu peduli atau paham betul apa dampaknya. Para ahli memperkirakan persediaan minyak bumi di planet kita ini akan habis dalam jangka waktu 20-30 tahun ke depan. Sebaliknya kita juga sering lupa bahwa alam perlu waktu jutaan tahun untuk memproses tumbuhan yang mati dan tertimbun dalam tanah untuk menghasilkan sejumlah besar minyak bumi untuk bisa kita manfaatkan.
Plastik (dalam bentuk tas plastik (kresek) atau kemasan) adalah produk yang jangka waktu manfaatnya paling pendek. Para pedagang toko dan warung dengan mudah mengeluarkan kantong kresek untuk kemudahan kita membawa belanjaan kita. Kita dengan mudah juga menerimanya. Di rumah tanpa berpikir juga kita lemparkan kantong kresek tersebut ke dalam tempat sampah. Kita berpikir, nilai fungsi dan ekonominya sudah tidak ada. Kita lupa, biaya ekologinya belum kita bayar. Kita lupa bahwa kantong kresek / kemasan yang kita sudah manfaatkan hanya dalam hitungan jam perlu ribuan tahun untuk terurai kembali secara di alam. Kita tidak bisa bayangkan berapa biaya yang harus kita keluarkan kalau kita diminta untuk menguraikan kembali seluruh sampah limbah yang kita hasilkan selama kita hidup.
Beberapa waktu lalu, dari sebuah situs lingkungan hidup (www.oneearth.org
) saya belajar bahwa jumlah seluruh limbah yang dihasilkan untuk memproduksi sebuah mobil baru adalah 21 ton. 21 TON! Limbah tersebut dihitung mulai dari proses produksi baja, kaca, plastik, karet, kulit dsb. Mulai dari proses produksi bahan baku, bahan setengah jadi hingga ke produk akhir sebuah mobil yang dipajang di showroom. Harga yang dibayarkan untuk sebuah mobil baru adalah katakan sekian ratus juta rupiah. Pertanyaannya, apakah harga yang dibayar konsumen tersebut cukup untuk mengolah 21 ton limbah yang dihasilkan tersebut secara bertanggung jawab? Siapa yang membayar biaya ekologis untuk mengolah limbah hasil produksi mobil tersebut? Kemudian selama masa pakainya, apakah harga yang dibayarkan konsumen cukup untuk menggantikan emisi CO2 yang dihasilkan kendaraan tersebut selama dimanfaatkan? Betapa besar biaya ekologis yang tidak pernah kita bayarkan - dengan kata lain kita hutangkan - kepada planet kita dan tidak pernah kita bayarkan?
Hutang ekologis ini suatu saat HARUS kita bayar. Kalau bukan kita yang membayarkannya mulai dari sekarang, anak cucu kita-lah yang akan menanggungnya. Hutang ini akan muncul dalam bentuk kerusakan lingkungan yang luar biasa dan sangat sulit kita perbaiki kembali kondisinya. Disadari atau tidak gejala-gejala kerusakan lingkungan ini sudah sangat bisa kita rasakan - lewat perubahan iklim (climate change) - atau lewat banyak gejala-gejala pemanasan bumi (global warming) yang sudah begitu banyak dimunculkan oleh media. Sejauh ini kita masih pada tahap bicara dan berwacana, dan apa yang kita lakukan masih jauh-jauh dari cukup.
Di gambar sebelah kanan, saya mengumpulkan sikat-sikat gigi bekas yang sudah tidak terpakai, sebelum saya 'berikan' kepada tukang sampah. Ada suatu nilai tambah di situ - karena ada upaya yang kita tanamkan di sana dengan mengumpulkan sampah kita sebelum kita keluarkan dari rumah kita. Ini yang saya istilahkan dengan nilai material. Secara fungsi - sebagai sikat gigi nilainya sudah habis - tapi yang muncul adalah sejumlah tertentu benda yang bahan dasarnya adalah plastik. Walaupun bukan kita yang melakukannya, saya yakin sekantong besar sikat gigi (baca: plastik) akan mendorong orang yang mengambilnya untuk berpikir dan mengubahnya menjadi sesuatu yang punya nilai ekonomi. Dengan mengumpulkan sampah kita per-jenis, kita mendorong orang lain melakukan recycling. Daur ulang adalah upaya kita untuk memperpanjang nilai fungsional / masa pakai dari setiap benda yang kita gunakan. Semakin banyak dari kita yang melakukan TC ini, akan semakin besar pula insentif bagi orang lain yang memang mencari penghidupan dari sampah / limbah untuk mendaur ulang. Ini adalah pemikiran mendasar dari TC.
Kalau hal-hal semacam ini kita lakukan terus menerus, secara fundamental, hal ini juga akan mengubah pola pikir kita terhadap sampah / limbah yang kita hasilkan.
Pada akhirnya kita bicara tentang kesadaran ekologis. Kesadaran adalah kemampuan kita melihat sesuatu melampaui apa yang terlihat secara kasat mata. Saat kita melihat sebuah buku, biasanya kita melihatnya hanya setumpuk kertas yang dijilid. Kita memiliki kesadaran, saat kita bisa melihat buku tersebut sebagai sebuah pohon.
Saat kita berbelanja di sebuah Super Market, apakah kita melihat bahwa di kiri-kanan rak pajangan produk sebagian besar daripadanya adalah sampah yang akan kita keluarkan dari rumah kita. Sampah kita tersebut akan ikut mengotori planet kita, tempat hidup kita.
Kesadaran kita akan menentukan sikap kita dalam melakukan segala sesuatu. Lepas dari terkenal atau tidaknya suatu produk, mungkin kita akan memilih produk yang kemasannya paling sederhana - sehingga sampahnya paling sedikit. Mungkin kita akan memilih produk yang dikemas menggunakan kertas daripada plastik...
Sejauh kita belum bisa melepaskan diri dari produk-produk yang dijual di toko-toko untuk kebutuhan hidup kita sehari-hari, paling tidak hal-hal sederhana semacam ini bisa kita lakukan. Dalam bahasa gerakan lingkungan hidup, sekecil apapun hal yang kita lakukan, hal tersebut pasti membawa perubahan."So, no matter how small, do it anyway!". Ayo kita coba!
Secara sederhana, tujuan mengolah sampah adalah agar sampah itu punya nilai tambah. Selama ini di dalam benak kita, sampah adalah benda-benda yang tidak lagi ada gunanya. Pola pikir ini harus kita ubah. Sampah harus tidak lagi kita pandang sebagai sekedar sesuatu yang kita buang karena sudah tidak ada nilainya. Benda apapun yang sudah habis nilai fungsinya bagi kita perlu kita lihat dan temukan nilai lainnya - paling tidak nilai materialnya. Kenapa? Karena benda apapun yang kita gunakan, sumber / bahan bakunya pasti berasal dari alam. Segala sesuatu yang dimiliki dan tersedia di alam kita adalah terbatas (finite), bahkan sangat terbatas untuk mencukupi kebutuhan umat manusia yang sudah sekian miliar orang jumlahnya - dan masih terus bertambah.
Sebuah ilustrasi sederhana: plastik - termasuk juga kantong kresek atau plastik kemasan yang kita gunakan sehari-hari diolah dari bahan dasar minyak bumi. Salah satu turunan olahan minyak bumi (kalau tidak salah diistilahkan polimer) kita gunakan sebagai kemasan produk atau kantong pembawa barang-barang belanjaan kita sehari-hari. Sudah tidak banyak kita sadari lagi bahwa ketersediaan minyak bumi adalah sangat terbatas. Atau, kita sadar tapi tidak terlalu peduli atau paham betul apa dampaknya. Para ahli memperkirakan persediaan minyak bumi di planet kita ini akan habis dalam jangka waktu 20-30 tahun ke depan. Sebaliknya kita juga sering lupa bahwa alam perlu waktu jutaan tahun untuk memproses tumbuhan yang mati dan tertimbun dalam tanah untuk menghasilkan sejumlah besar minyak bumi untuk bisa kita manfaatkan.
Plastik (dalam bentuk tas plastik (kresek) atau kemasan) adalah produk yang jangka waktu manfaatnya paling pendek. Para pedagang toko dan warung dengan mudah mengeluarkan kantong kresek untuk kemudahan kita membawa belanjaan kita. Kita dengan mudah juga menerimanya. Di rumah tanpa berpikir juga kita lemparkan kantong kresek tersebut ke dalam tempat sampah. Kita berpikir, nilai fungsi dan ekonominya sudah tidak ada. Kita lupa, biaya ekologinya belum kita bayar. Kita lupa bahwa kantong kresek / kemasan yang kita sudah manfaatkan hanya dalam hitungan jam perlu ribuan tahun untuk terurai kembali secara di alam. Kita tidak bisa bayangkan berapa biaya yang harus kita keluarkan kalau kita diminta untuk menguraikan kembali seluruh sampah limbah yang kita hasilkan selama kita hidup.
Beberapa waktu lalu, dari sebuah situs lingkungan hidup (www.oneearth.org
Hutang ekologis ini suatu saat HARUS kita bayar. Kalau bukan kita yang membayarkannya mulai dari sekarang, anak cucu kita-lah yang akan menanggungnya. Hutang ini akan muncul dalam bentuk kerusakan lingkungan yang luar biasa dan sangat sulit kita perbaiki kembali kondisinya. Disadari atau tidak gejala-gejala kerusakan lingkungan ini sudah sangat bisa kita rasakan - lewat perubahan iklim (climate change) - atau lewat banyak gejala-gejala pemanasan bumi (global warming) yang sudah begitu banyak dimunculkan oleh media. Sejauh ini kita masih pada tahap bicara dan berwacana, dan apa yang kita lakukan masih jauh-jauh dari cukup.
Kembali ke TC, konsepnya begini. Sederhana sekali. Perhatikan gambar di bawah ini. Gambar sebelah kiri adalah sebuah sikat gigi bekas yang saya buang ke tempat sampah - seperti yang selama ini kita lakukan. Setelah tempat sampah tersebut dikosongkan dan digabung dengan sampah-sampah rumah tangga lainnya, sikat gigi bekas tersebut kelihatan tidak ada harganya.
![]() |
| kiri : 1 sikat gigi di dalam tong sampah | kanan : sekumpulan benda berbahan dasar plastik |
Di gambar sebelah kanan, saya mengumpulkan sikat-sikat gigi bekas yang sudah tidak terpakai, sebelum saya 'berikan' kepada tukang sampah. Ada suatu nilai tambah di situ - karena ada upaya yang kita tanamkan di sana dengan mengumpulkan sampah kita sebelum kita keluarkan dari rumah kita. Ini yang saya istilahkan dengan nilai material. Secara fungsi - sebagai sikat gigi nilainya sudah habis - tapi yang muncul adalah sejumlah tertentu benda yang bahan dasarnya adalah plastik. Walaupun bukan kita yang melakukannya, saya yakin sekantong besar sikat gigi (baca: plastik) akan mendorong orang yang mengambilnya untuk berpikir dan mengubahnya menjadi sesuatu yang punya nilai ekonomi. Dengan mengumpulkan sampah kita per-jenis, kita mendorong orang lain melakukan recycling. Daur ulang adalah upaya kita untuk memperpanjang nilai fungsional / masa pakai dari setiap benda yang kita gunakan. Semakin banyak dari kita yang melakukan TC ini, akan semakin besar pula insentif bagi orang lain yang memang mencari penghidupan dari sampah / limbah untuk mendaur ulang. Ini adalah pemikiran mendasar dari TC.
![]() |
| contoh lain sampah yang bisa kita kumpulkan |
Pada akhirnya kita bicara tentang kesadaran ekologis. Kesadaran adalah kemampuan kita melihat sesuatu melampaui apa yang terlihat secara kasat mata. Saat kita melihat sebuah buku, biasanya kita melihatnya hanya setumpuk kertas yang dijilid. Kita memiliki kesadaran, saat kita bisa melihat buku tersebut sebagai sebuah pohon.
Saat kita berbelanja di sebuah Super Market, apakah kita melihat bahwa di kiri-kanan rak pajangan produk sebagian besar daripadanya adalah sampah yang akan kita keluarkan dari rumah kita. Sampah kita tersebut akan ikut mengotori planet kita, tempat hidup kita.
Kesadaran kita akan menentukan sikap kita dalam melakukan segala sesuatu. Lepas dari terkenal atau tidaknya suatu produk, mungkin kita akan memilih produk yang kemasannya paling sederhana - sehingga sampahnya paling sedikit. Mungkin kita akan memilih produk yang dikemas menggunakan kertas daripada plastik...
Sejauh kita belum bisa melepaskan diri dari produk-produk yang dijual di toko-toko untuk kebutuhan hidup kita sehari-hari, paling tidak hal-hal sederhana semacam ini bisa kita lakukan. Dalam bahasa gerakan lingkungan hidup, sekecil apapun hal yang kita lakukan, hal tersebut pasti membawa perubahan."So, no matter how small, do it anyway!". Ayo kita coba!












Tidak ada komentar:
Posting Komentar